Kenali Stres pada Remaja: Jangan Anggap Sepele, Belajar Kenali dan Atasi

Oleh : Ulul Azmi, A.Md.Kep

Pendahuluan

Masa remaja merupakan tahap penting yang ditandai perubahan fisik, emosional, dan sosial. Berbagai tuntutan dari sekolah, keluarga, pertemanan, dan masa depan dapat menimbulkan stres. Stres pada remaja tidak selalu terlihat. Tanda-tandanya dapat berupa mudah marah, menarik diri, sulit berkonsentrasi, perubahan tidur, atau kehilangan minat. 

Perhatian terhadap kesehatan mental remaja menjadi semakin penting. World Health Organization (WHO) memperkirakan sekitar satu dari tujuh anak dan remaja berusia 10–19 tahun mengalami kondisi kesehatan mental. WHO juga menekankan bahwa masa remaja merupakan periode penting untuk membangun kebiasaan sosial dan emosional yang mendukung kesehatan mental sepanjang kehidupan.

Karena itu, mengenali stres sejak dini penting agar remaja mendapatkan dukungan yang tepat dan masalah tidak semakin berat.

Apa Itu Stres pada Remaja?

Stres adalah respons tubuh dan pikiran ketika menghadapi tekanan atau situasi yang menantang. Dalam kehidupan sehari-hari, stres tidak selalu berarti sesuatu yang buruk. Tekanan dalam jumlah tertentu dapat mendorong seseorang untuk lebih fokus dan menyelesaikan tugas. Namun, stres yang berlangsung terus-menerus, terlalu berat, atau sulit dikendalikan dapat mengganggu kesehatan dan kehidupan sehari-hari.

Pada remaja, sumber stres dapat berasal dari berbagai hal. Tekanan akademik, tuntutan untuk mendapatkan nilai yang baik, konflik dengan orang tua, masalah pertemanan, perundungan (bullying), perubahan dalam hubungan sosial, masalah keluarga, serta kekhawatiran mengenai masa depan dapat menjadi pemicu stres.

Selain itu, perkembangan teknologi dan media sosial juga dapat menjadi bagian dari pengalaman remaja saat ini. Penggunaan media sosial yang bermasalah dapat berkaitan dengan berbagai konsekuensi negatif bagi kehidupan dan kesejahteraan remaja. WHO melaporkan bahwa proporsi remaja yang menunjukkan tanda penggunaan media sosial bermasalah meningkat dari 7% pada 2018 menjadi 11% pada 2022 dalam survei di 44 negara dan wilayah Eropa, Asia Tengah, dan Kanada.

Kenali Tanda-Tanda Stres pada Remaja

Stres dapat muncul dalam berbagai bentuk. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan perubahan yang terjadi pada diri sendiri maupun orang di sekitar.

Beberapa tanda yang dapat muncul antara lain:

  1. Perubahan emosi, seperti mudah marah, lebih sensitif, sering merasa cemas, sedih, atau kewalahan.
  2. Perubahan perilaku, seperti menjadi lebih pendiam, menarik diri dari keluarga atau teman, atau kehilangan ketertarikan terhadap aktivitas yang biasanya disukai.
  3. Kesulitan berkonsentrasi, misalnya sulit mengikuti pelajaran, mudah lupa, atau kesulitan menyelesaikan tugas.
  4. Perubahan pola tidur, seperti sulit tidur, terlalu banyak tidur, atau merasa tidak segar setelah tidur.
  5. Perubahan pola makan, baik berupa berkurangnya maupun meningkatnya nafsu makan.
  6. Keluhan fisik, seperti sakit kepala, kelelahan, atau berbagai keluhan tubuh yang muncul ketika sedang menghadapi tekanan.

Satu tanda saja tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan kesehatan mental. Namun, perubahan yang berlangsung terus-menerus, semakin berat, atau mulai mengganggu sekolah, hubungan sosial, aktivitas sehari-hari, dan kehidupan keluarga perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.

Bagaimana Cara Mengatasi Stres?

Stres tidak selalu dapat dihindari, tetapi cara merespons stres dapat dipelajari. WHO menekankan pentingnya membangun kebiasaan tidur yang sehat, aktivitas fisik, kemampuan memecahkan masalah, keterampilan interpersonal, serta kemampuan mengelola emosi sebagai bagian dari kebiasaan yang mendukung kesehatan mental remaja.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan remaja antara lain :

  1. Kenali dan akui perasaan

Tidak perlu merasa malu ketika sedang merasa tertekan, sedih, kecewa, atau cemas. Mengenali perasaan merupakan langkah awal untuk memahami apa yang sedang terjadi.

  1. Ceritakan kepada orang yang dipercaya

Jangan menghadapi semua masalah sendirian. Berbicara dengan orang tua, saudara, guru, teman yang dipercaya, atau tenaga profesional dapat membantu melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda.

  1. Atur waktu dan prioritas

Tugas sekolah, kegiatan organisasi, hobi, dan kehidupan sosial perlu diatur secara seimbang. Membagi tugas besar menjadi beberapa bagian kecil dapat membuat pekerjaan terasa lebih ringan.

  1. Jaga pola hidup sehat

Tidur yang cukup, makan secara teratur, melakukan aktivitas fisik, serta menyediakan waktu untuk beristirahat dapat membantu menjaga kondisi tubuh dan pikiran.

  1. Gunakan media sosial secara bijak

Berikan waktu untuk beristirahat dari layar dan media sosial. Hindari membandingkan kehidupan diri sendiri dengan kehidupan orang lain yang ditampilkan di media sosial.

  1. Berikan waktu untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan

Melakukan hobi, berolahraga, berkumpul dengan teman atau keluarga, membaca, bermain musik, atau melakukan kegiatan positif lainnya dapat menjadi bagian dari cara menjaga keseimbangan diri.

Kapan Harus Mencari Bantuan?

Meminta bantuan bukan berarti seseorang lemah. Justru, mencari pertolongan ketika menghadapi masalah merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Jika stres berlangsung lama, semakin berat, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, remaja sebaiknya berbicara dengan orang dewasa yang dipercaya dan mempertimbangkan untuk mendapatkan bantuan dari tenaga kesehatan atau tenaga profesional kesehatan mental.

Perhatian juga perlu diberikan apabila seorang remaja menunjukkan tanda-tanda seperti merasa tidak berharga, kehilangan harapan, atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Kondisi tersebut tidak boleh dianggap sebagai sekadar “fase remaja”. Kemenkes RI juga menekankan pentingnya membuka ruang bagi remaja untuk berbicara dan berdiskusi mengenai kesehatan mental secara terbuka.

Penutup

Stress merupakan bagian dari kehidupan dan dapat dialami oleh siapa saja, termasuk remaja. Namun, stres yang terlalu berat atau berlangsung dalam waktu lama dapat mengganggu kesejahteraan dan aktivitas sehari-hari. Karena itu, penting bagi remaja untuk mengenali perubahan emosi, perilaku, pola tidur, konsentrasi, maupun kondisi fisiknya.

Mengenali stres bukan berarti mencari kelemahan, tetapi merupakan langlah awal untuk menjaga kesehatan diri. Remaja tidak harus menghadapi semua masalah seorang diri. Dukungan dari keluarga, teman, sekolah, dan tenaga kesehatan dapat membantu remaja melewati masa-masa sulit.

Jika Anda atau anak Anda menunjukkan tanda-tanda stres berat yang berkepanjangan, jangan takut untuk bercerita kepada seseorang yang dapat dipercaya, serta jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tim ahli kami. Rumah Sakit Khusus Puri Nirmala menyediakan layanan konseling dan terapi bersama Psikolog Anak & Remaja serta Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater) yang siap membantu dengan ruang konsultasi yang aman dan nyaman. Ingat, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.

Daftar Pustaka

World Health Organization. (2024). Mental health of children and young people: Service guidance. World Health Organization.

World Health Organization. (2024). Mental health of adolescents. World Health Organization.

World Health Organization Regional Office for Europe. (2024). Teens, screens and mental health. World Health Organization.

World Health Organization Regional Office for Europe. (2024). Rising school pressure and declining family support especially among girls. World Health Organization.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Cegah bunuh diri, Kemenkes ajak remaja bicara soal kesehatan mental. Kementerian Kesehatan RI.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *