Oleh : Patricia Melati Rosari Primandasari, M.Psi, Psikolog

Rasa percaya diri sangat dibutuhkan dalam berbagai aspek kehidupan. Rasa percaya diri merupakan sifat mendasar yang sangat penting bagi pertumbuhan pribadi seseorang. Di tengah lingkungan yang penuh tantangan, rasa percaya diri dapat menjadi penentu seseorang dalam mencapai suatu keberhasilan. Dalam sebuah penelitian oleh American Mental Association menunjukkan bahwa 85% orang yang sukses menghubungkan keberhasilan dengan rasa percaya diri (Halilsoy, 2024).
Lauster menjelaskan bahwa percaya diri adalah sikap keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri, yang memungkinkan seseorang untuk merasa yakin dalam bertindak, mengejar minat, bertanggung jawab atas tindakan, dan mendukung dalam berinteraksi sosial (Apriyani, dkk, 2025). Rasa percaya diri mampu mendorong seseorang untuk melangkah maju dengan keyakinan teguh terhadap kemampuan diri di tengah arus kehidupan yang bergejolak. Rasa percaya diri juga mampu memberdayakan seseorang untuk menghadapi hambatan dengan pola pikir positif bahwa hambatan merupakan suatu peluang untuk tumbuh dan belajar sehingga mampu memperluas wawasan dan meningkatkan pengembangan diri. Seseorang yang percaya diri mampu berkomunikasi secara lebih efektif, menghadapi kritik, mengutarakan pendapat atau kebutuhan dan membangun hubungan yang kuat dan sehat dengan orang lain. Seseorang yang percaya diri juga mampu membuat orang lain lebih mendengarkan dan mau menghargai pendapat dan arahan (Halilsoy, Turken, 2024).
Rasa percaya diri tidak muncul secara alami atau bersifat bawaan, namun, dapat dilatih dan dibangun. Dalam teori Erik Erikson (1995) dijelaskan bahwa bayi yang memiliki rasa percaya (trust) telah mengembangkan syarat utama untuk pertumbuhan rasa percaya diri, optimis, dan rasa aman. Ini tampak dari bayi yang mengenali diri sendiri melalui reaksi ibu, seperti senyum, wajah, tatapan, pengakuan dan perhatian dari ibu. Rasa percaya tersebut menjadi syarat dalam proses berkembangnya rasa percaya diri pada rentang usia selanjutnya. Ini menunjukkan bahwa rasa percaya diri dapat mulai ditumbuhkan sejak dini.
Mengembangkan rasa percaya diri pada anak merupakan suatu hal yang sangat penting karena rasa percaya diri yang sehat dapat membantu anak menjalani berbagai aspek kehidupan (Chan, dkk, 2020). Rasa percaya diri mampu mempengaruhi cara pandang anak terhadap diri sendiri dan berinteraksi dengan orang lain dalam aktivitas sehari-hari. Rasa percaya diri pada masa kanak-kanak awal juga mengacu pada keyakinan anak terhadap kemampuan dalam menyelesaikan tugas, mengungkapkan gagasan, dan berinteraksi secara sosial tanpa rasa takut atau ragu yang berlebihan. Dalam teori Santrock (2021), menjelaskan bahwa rasa percaya diri berkaitan erat dengan efikasi diri, yang menentukan kesediaan anak untuk mencoba tantangan baru dan bertahan dalam situasi sulit. Rasa percaya diri yang mulai tumbuh sejak dini akan mampu memberikan manfaat yang lebih optimal dan dapat menjadi fondasi yang kuat dalam pertumbuhan dan perkembangan anak saat beranjak remaja hingga dewasa. Dalam hal ini, orangtua memiliki peran penting dalam menumbuhkan rasa percaya diri. Peran tersebut terwujud dalam pola pengasuhan.
Untuk dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, maka perlu adanya dukungan pola asuh orangtua yang sehat. Baumrind menjelaskan bahwa pola asuh autoritatif mampu memberikan dampak positif dalam berbagai aspek perkembangan anak, termasuk pertumbuhan rasa percaya diri (Ceulemans, 2019). Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa pola asuh autoritatif yang ditandai dengan kehangatan tinggi dan dukungan terhadap otonomi berkaitan erat dengan harga diri dan rasa percaya diri yang lebih tinggi. Selain itu, orangtua yang memberikan dukungan emosional, seperti suportif, pengertian dan komunikatif dapat meningkatkan rasa percaya diri, harga diri dan kenyamanan emosional (Chattani & Sharma, 2024).
Pola asuh autoritatif ditandai dengan tuntutan tinggi disertai dengan kehangatan dan dukungan yang tinggi. Pola asuh ini menetapkan batasan dan aturan yang jelas dengan harapan anak mau mendengarkan dan orangtua juga bersedia mendengarkan anak. Orangtua juga menanamkan sikap patuh tanpa bersikap terlalu mencampuri urusan anak atau terlalu membatasi ruang gerak anak. Hal ini mampu meningkatkan rasa percaya diri anak, anak dapat berkomunikasi dengan lebih baik, mendorong kemampuan pengaturan diri, dan mempererat relasi antara orang tua dan anak. Saat orangtua menciptakan suasana hangat yang penuh dengan afirmasi dan dukungan, anak akan merasa mampu dan dihargai. Melalui komunikasi terbuka dan sikap mendengarkan secara aktif, serta disiplin positif, dapat membantu mendorong anak untuk berpikir kritis, mampu mengambil keputusan secara mandiri dan percaya diri dengan pendapatnya, serta menjalin hubungan yang baik dengan orang lain (Kelly, 2024).

Berikut cara menerapkan pola asuh autoritatif dalam menumbuhkan kepercayaan diri pada anak :
1. Mendengarkan secara aktif untuk memvalidasi perasaan dan pengalaman anak
2. Memberikan apresiasi terhadap usaha anak, terlepas dari hasil apapun
3. Fokus dan menghargai usaha anak dalam menyelesaikan tugas
4. Memberikan pujian yang tulus dan jelas dengan mengkaitkan pujian dengan tindakan nyata, seperti “Ayah dan bunda memperhatikan kamu berusaha keras sekali dalam mengerjakan tugas itu”
5. Mengajarkan anak untuk menghadapi tantangan dengan mendorong anak memandang bahwa kegagalan sebagai bagian alami dari proses belajar dan memandang tantangan sebagai peluang
6. Menumbuhkan pola pikir yang berkembang dengan menekankan pentingnya proses belajar, usaha dan peningkatan diri
7. Mengembangkan keterampilan memecahkan suatu masalah dengan memberikan tantangan disesuaikan dengan usia anak dan mendampingi anak berpikir kritis terhadap masalah tersebut
8. Memberikan ruang bersosialisasi bagi anak, terutama dengan teman sebaya
9. Mendampingi anak menetapkan tujuan dan harapan yang realistis yang disesuaikan dengan kompetensi diri tanpa menimbulkan kelelahan mental
10. Mendampingi anak melakukan refleksi dengan mengungkapkan pikiran dan perasaan terhadap pengalaman yang dialami dan mengelola perasaan
11. Membangun kemandirian dan sikap asertif dengan mengijinkan anak membuat pilihan disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak dan berlatih sikap asertif dengan permainan peran dalam berbagai situasi
Sumber :
Apriyani, Erni Tresna, Muqodas, Idat, Nikawanti, Gia.2025. Analysis of Children’s Self-Confidence in Transition Activities from Pre-School to Kidergarten. Indonesian Journal of Educational Development (IJED), Volume 6, Issue 2, 2025, pp. 422 – 435.
Chan, S., Wong, K., & Yip, H.2020. Self-confidence and social interaction among early childhood learners. Early Childhood Education Journal, 48(5), 567–576.
Chattani, Deepa & Sharma, Dr. Ratna Dixit.2024.Parenting Styles and Adolescent Self Esteem : A Qualitative Study Across Government and Private School Contexts.International Journal of Science and Social Science Research, Volume 1, Issue 4, January – March 2024.
Halilsoy, Turken.2024.The Importance of Self Conficendece. Akademik Tarih ve Dusunce Dergisi : Academic Journal of History and Idea, 11 (5), 2975 – 2989.
Kelleye, Kennedy.2024.Authoritative Parenting and The Impact on Child Development.Murray State University.
Mubarokah, Lailatul & Imtihana, Ezif Rizqi.2026.Analysis of The Impact of Low Self-Confidence on Early Childhood Social Development. Golden Ratio of Data in Summary, Volume 6, Issue 3.
Muss, Rolf Eduard.1995. Theories of Adolescence Sixth Edition. Ohio : McGraw-Hill Humanities.
Randallsymes.2024.Strategies for Empowering Children to Trust in Their Own Abilites.