Kesehatan Mental Pria Masih Sering Diabaikan

Oleh : Muhammad Taufiqurrohman, Amd.Kep

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) milik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi masalah kesehatan mental yang terlihat melalui gejala seperti depresi serta panik/kecemasan terdeteksi mencapai 6% pada individu usia 15 tahun ke atas (sekitar empat belas juta orang).

Pria cenderung kurang bersedia untuk mencari bantuan ketika berhadapan dengan masalah kesehatan mental mereka, hal ini terungkap dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat. Jika dibandingkan dengan wanita, peluang pria untuk meminta pertolongan  saat menghadapi masalah mental sekitar 40% lebih rendah. Banyak orang tidak mengetahui bagaimana anak laki laki dan remaja akan mencari dukungan. Maka dari itu dengan situasi tersebut sangat mengkhawatirkan bagi anak laki laki remaja, karena menjadi memiliki tingkat bunuh diri yang tinggi, tetapi rendah dalam memanfaatkan layanan kesehatan mental.

Perbedaan angka bunuh diri pada pria

Di berbagai negara di seluruh dunia, pria secara konsisten menunjukkan angka bunuh diri yang tinggi, terutama di kalangan populasi usia menengah dan lanjut. Mereka juga umumnya memilih cara yang lebih mematikan, yang secara signifikan meningkatkan kemungkinan hasil yang fatal. Meningkatkan pemahaman tentang kesehatan mental sangat penting untuk mengurangi stigma yang terkait dengan mencari bantuan untuk masalah kesehatan mental.

Strategi pencegahan dan intervensi yang bermanfaat

1. Dengan meningkatkan kesadaran dan aksesibilitas

2. Teknik pengurangan stres dan mekanisme penanggulangan yang sehat

3. Perawatan diri dasar dan terlibat dalam aktivitas yang menyenangkan

Mendorong diskusi mengenai kesejahteraan mental pria

Kesalahpahaman umum yang menghambat percakapan terbuka tentang kesehatan mental pria meliputi:

1. Keyakinan bahwa pria tidak boleh menunjukkan emosi, kerentanan, atau mencari bantuan.

2. Anggapan bahwa pria harus kuat, agresif, dan mengendalikan situasi.

3. Persepsi bahwa pria harus mengatasi masalah sendiri, tetap mandiri dan mengandalkan diri sendiri tanpa meminta bantuan.

4. Kekhawatiran bahwa mengakui tantangan kesehatan mental mungkin dianggap sebagai tanda kelemahan, kegagalan, atau penurunan maskulinitas.

5. Kecenderungan untuk menekan emosi yang kuat daripada mengatasinya sejak dini dan secara aktif mencari cara untuk mengurangi penderitaan dan mendorong pemulihan.

6. Ketidakpekaan ungkapan seperti “bersikaplah jantan,” yang meremehkan reaksi emosional normal dan berkontribusi pada pemahaman terbatas yang menghambat ekspresi emosional.

7. Kekhawatiran tentang bagaimana teman, kolega, pasangan, atau anggota keluarga akan bereaksi jika mereka secara terbuka membahas kesehatan mental mereka.

Menghilangkan stereotip ini akan menciptakan suasana yang mendukung untuk mengenali kebutuhan kesehatan mental pria tanpa rasa takut, stigma, atau penilaian. Kita perlu membangun lingkungan yang aman di mana pria dapat mendiskusikan emosi mereka dan berbagi pengalaman mereka secara jujur.

Cara pria menyikapi tantangan kesehatan mental dengan pengaruh stigma

Bahkan dengan kemajuan pemahaman kita tentang kesehatan mental, pria yang menghadapi masalah kesehatan mental seringkali menanggungnya dalam kesendirian. Stigma menambah kesulitan ekstra ketika pria menghadapi tantangan, karena mereka sering mengalami diskriminasi, penghindaran, dan penolakan. Banyak pria merasa khawatir dianggap kurang maskulin atau rentan, yang menyebabkan perasaan tidak mampu dan berdampak pada harga diri mereka. Stigma dapat memengaruhi preferensi pria terhadap strategi mengatasi masalah yang tidak sehat seperti agresi atau penggunaan zat untuk mengelola ketidaknyamanan emosional. Beberapa pria sering merasa lebih nyaman mengatasi masalah fisik, yang menyebabkan penundaan diagnosis dan pengobatan, sehingga mengakibatkan periode pemulihan yang lebih lama.

Sumber :

Chatmon, Benita, PhD, MSN, RN, CNE. (19 Agustus 2020).  Pria dan Stigma Kesehatan Mental . Jurnal Kesehatan Pria Amerika.

Fitri, Rahmi Pramulia. “Edukasi Kesehatan Mental pada Remaja.” Health Community Service 1.1 (2023): 32-36.

Mental Health America [MHA]. (2020). Infografis: Kesehatan mental untuk pria.

Parent, A. (26 Januari 2023).  Kesehatan mental dan pria: bagaimana mendukung orang yang Anda cintai.  

Pusat Pencegahan Bunuh Diri dan Komisi Kesehatan Mental Kanada (30 Maret 2022).  Pria dan bunuh diri.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *