Ketika Diagnosis Kanker Menguji Kesehatan Jiwa

Oleh : Ratna Farida Nuryuliana, Amd.Kep

Kanker merupakan salah satu penyakit yang paling mematikan di dunia. Diagnosis kanker sering kali menjadi salah satu pengalaman paling mengguncang dalam kehidupan seseorang. Kanker kerap menjadi ujian berat bagi kesehatan jiwa karena selain menjadi tantangan fisik, dapat juga meningkatkan risiko stres, kecemasan, dan depresi pada pasien. Kanker juga dapat memicu perubahan besar dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan spiritual pasien. Kekhawatiran mengenai biaya pengobatan, peran dalam keluarga, serta kemungkinan kehilangan kemandirian menjadi sumber stres tambahan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kanker adalah pengalaman multidimensional yang menuntut perhatian tidak hanya pada terapi medis, tetapi juga pada kesehatan jiwa pasien. Tanpa dukungan yang memadai, tekanan emosional ini berpotensi berkembang menjadi gangguan kecemasan atau depresi yang berdampak pada kualitas hidup secara keseluruhan.

Dampak Psikologis Awal

Pada fase awal, reaksi yang muncul ketika menerima diagnosis kanker umumnya berupa syok, ketidakpercayaan, dan penolakan sebagai mekanisme pertahanan diri terhadap kabar yang mengancam kehidupan. Dalam hitungan jam atau hari setelah diagnosis disampaikan, pasien dapat mengalami lonjakan kecemasan yang intens, ketakutan akan kematian, kekhawatiran terhadap masa depan keluarga, serta ketidakpastian mengenai proses pengobatan yang akan dijalani.

Selain itu, sebagian pasien mengalami apa yang dikenal sebagai “anticipatory anxiety”, yaitu kecemasan terhadap kemungkinan efek samping pengobatan, perubahan citra tubuh, atau kehilangan peran sosial. Oleh karena itu, pada tahap awal diagnosis, dukungan emosional dari keluarga, tenaga kesehatan, serta akses pada konseling psikologis menjadi sangat penting untuk membantu pasien memproses informasi dan menstabilkan kondisi mentalnya. Pendekatan perawatan kanker seharusnya tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga memberikan perhatian serius terhadap kesehatan jiwa sejak hari pertama diagnosis ditegakkan.

Kecemasan dan Depresi pada Pasien Kanker

Kecemasan dan depresi merupakan dua gangguan psikologis yang paling sering dialami oleh pasien setelah menerima diagnosis kanker. Ketika seseorang dihadapkan pada ancaman terhadap kehidupan, ketidakpastian hasil pengobatan, serta perubahan fisik yang mungkin terjadi, muncul rasa takut yang intens dan berkelanjutan. Dalam kadar tertentu, kecemasan adalah respons yang wajar, namun pada sebagian pasien, kondisi ini berkembang menjadi gangguan yang menetap dan mengganggu fungsi sehari-hari.

Kecemasan pada pasien kanker sering kali berkaitan dengan kekhawatiran terhadap prosedur medis, efek samping terapi seperti kemoterapi atau radioterapi, kemungkinan kekambuhan, hingga ketakutan akan kematian. Emosional yang tidak tertangani dapat mempengaruhi kepatuhan pasien terhadap pengobatan dan menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan. Sementara itu, depresi pada pasien kanker ditandai dengan perasaan sedih berkepanjangan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, kelelahan emosional, hingga munculnya rasa putus asa.

Dampak kecemasan dan depresi tidak hanya terbatas pada aspek emosional, tetapi juga dapat memperburuk kondisi fisik, gangguan tidur, penurunan nafsu makan, dan kurangnya motivasi menjalani terapi dapat memengaruhi proses pemulihan. Selain itu, kondisi psikologis yang memburuk dapat menurunkan daya tahan tubuh dan memperpanjang masa perawatan.

Peran Dukungan Sosial dan Keluarga

Dalam menghadapi diagnosis kanker, dukungan sosial dan keluarga memegang peranan yang sangat krusial dalam menjaga stabilitas kesehatan jiwa pasien. Ketika seseorang menerima kabar tentang penyakit serius, rasa takut dan ketidakpastian sering kali terasa begitu berat jika dipikul sendirian. Kehadiran keluarga yang memberikan empati, perhatian, dan pendampingan emosional dapat menjadi sumber kekuatan yang membantu pasien melewati fase-fase sulit sejak awal diagnosis hingga proses pengobatan berlangsung.

Dukungan sosial tidak hanya berbentuk kata-kata penyemangat, tetapi juga dukungan instrumental seperti membantu mengatur jadwal pengobatan, menemani konsultasi medis, hingga membantu kebutuhan sehari-hari. Bentuk dukungan ini mampu mengurangi beban stres dan memberikan rasa aman. Menurut National Cancer Institute, dukungan emosional yang memadai dapat membantu pasien mengurangi distress psikologis serta meningkatkan kemampuan koping dalam menghadapi penyakit.

Selain keluarga inti, jaringan sosial seperti teman, komunitas keagamaan, maupun kelompok pendukung juga memiliki kontribusi besar terhadap kesehatan mental pasien. Berbagi pengalaman dengan sesama penyintas kanker dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan mengurangi perasaan terisolasi. Keterlibatan komunitas dan komunikasi terbuka antara pasien dengan orang terdekat dapat meningkatkan kualitas hidup selama dan setelah perawatan.

Dukungan sosial dan keluarga bukan hanya pelengkap dalam proses penyembuhan, melainkan fondasi penting yang membantu pasien mempertahankan harapan, membangun ketahanan diri, dan menjaga kesehatan jiwa di tengah ujian berat akibat diagnosis kanker.

Pentingnya Layanan Kesehatan Mental

Dalam konteks diagnosis kanker, layanan kesehatan mental bukanlah pelengkap melainkan bagian dari perawatan yang menyeluruh. Ketika pasien menghadapi tekanan emosional dari kecemasan, ketakutan akan kematian, hingga perubahan citra diri, pendampingan psikologis menjadi kebutuhan yang sama pentingnya dengan terapi medis. Tanpa dukungan yang tepat, distress psikologis dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan atau depresi yang memperburuk kualitas hidup dan menghambat proses pengobatan. Skrining kesehatan jiwa rutin pada pasien kanker sangat dianjurkan agar masalah psikologis dapat terdeteksi sejak dini. Deteksi awal memungkinkan intervensi yang lebih cepat melalui konseling, terapi kognitif perilaku, atau bahkan pengobatan farmakologis bila diperlukan. Pendekatan ini membantu pasien mengelola emosi secara lebih adaptif, meningkatkan kemampuan mengambil keputusan medis, serta memperkuat motivasi dalam menjalani terapi. Pendekatan multidisipliner yang melibatkan dokter onkologi, psikolog, psikiater, dan pekerja sosial memungkinkan penanganan yang lebih komprehensif, tidak hanya berfokus pada penyembuhan fisik tetapi juga pemulihan psikologis.

Layanan kesehatan mental juga berperan dalam membantu pasien menghadapi isu-isu seperti makna hidup, ketakutan akan kekambuhan, serta perubahan peran sosial. Melalui terapi individual maupun kelompok dukungan, pasien dapat mengekspresikan emosi secara aman, belajar strategi koping yang sehat, dan membangun kembali rasa kontrol atas hidupnya. Dengan demikian, memasukkan layanan kesehatan mental ke dalam standar perawatan kanker bukan hanya meningkatkan kualitas hidup pasien, tetapi juga memperkuat efektivitas pengobatan secara keseluruhan. Penyembuhan diagnosis kanker tidak hanya berfokus pada pengobatan saja, tetapi juga memelihara kesehatan jiwa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pemulihan.

Sumber : 

American Cancer Society. (2023). Emotional and mood changes during and after cancer treatment. https://www.cancer.org/cancer/managing-cancer/side-effects/emotional-mood-changes.html

National Cancer Institute. (2022). Distress management in cancer care. U.S. Department of Health and Human Services. https://www.cancer.gov/about-cancer/coping/feelings/distress

World Health Organization. (2022). Cancer and mental health. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cancer

Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. (2022). Tingkat kecemasan pasien kanker  yang menjalani kemoterapi. https://proceeding.unisayogya.ac.id/index.php/prosemnaslppm/article/view/603

FIKKes Universitas Muhammadiyah Semarang. (2024). Hubungan terapi kemoterapi terhadap tingkat stress pasien kanker. https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/JKJ/article/view/13704/pdf



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *