Ruang Tumbuh untuk Setiap Anak

Oleh : dr. Cecelia Estrelia Damayanti

 

 Setiap tahun, tanggal 21 Maret merupakan peringatan global sebagai World Down Syndrome DayDown syndrome (Sindrom Down) merupakan kondisi genetik yang terjadi akibat adanya tambahan kromosom 21. Kondisi ini umumnya terjadi akibat kesalahan pembelahan kromosom selama pembentukan sel reproduksi dan sudah terjadi sejak masa perkembangan janin. Mayoritas anak dengan Down syndrome memiliki kondisi kesehatan penyerta. Sekitar 95,49% anak Down syndrome diketahui memiliki komorbiditas. Kelainan jantung merupakan kondisi penyerta yang paling sering ditemukan. Selain itu, sekitar 25,63% pasien memiliki lebih dari satu penyakit penyerta.

Dikutip dari World Health Organization (WHO), setiap tahun sekitar 3.000—5.000 bayi di dunia lahir dengan Down syndrome. Indonesia sendiri, melalui Kementerian Kesehatan, mencatat puluhan ribu anak hidup dengan kondisi tersebut. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa individu dengan Down syndrome dapat mengalami berbagai masalah psikologis seperti kecemasan, depresi, maupun gangguan perilaku. Anak dengan Down syndrome tidak hanya membutuhkan perhatian pada kesehatan fisik, tetapi juga dukungan psikososial dan lingkungan yang inklusif agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Perkembangan anak dengan Down syndrome meliputi aspek fisik, kemampuan belajar, keterampilan sosial, serta kejiwaan. Pada aspek fisik, anak dengan Down syndrome umumnya mengalami keterlambatan perkembangan motorik akibat tonus otot lebih rendah dan kekuatan otot lemah. Meskipun demikian, tahapan perkembangan mereka pada dasarnya sama dengan anak lainnya, hanya saja membutuhkan waktu lebih lama dan stimulasi yang tepat. 

Anak dengan Down syndrome juga mempunyai tantangan kognitif seperti memori, perhatian, dan proses belajar. Sedangkan dalam aspek sosial, banyak anak dengan Down syndrome memiliki sifat ramah, mampu berinteraksi, dan berkomunikasi dengan baik, sehingga kegiatan bermain dan aktivitas sosial dapat membantu meningkatkan keterampilan komunikasi serta interaksi mereka. Namun, mereka tetap dapat mengalami kesulitan dalam mempertahankan perhatian atau fokus yang berdampak pada proses belajar dan interaksi sosial.

Aspek kejiwaan merupakan aspek yang sangat penting diperhatikan pada anak dengan Down syndrome. Anak dengan kondisi ini dapat mengalami tantangan dalam mengelola emosi, mempertahankan perhatian maupun membangun rasa percaya diri. Dukungan emosional dari keluarga dan lingkungan sangat berperan dalam membantu anak merasa diterima dan dihargai. Ini membantu anak mengembangkan kemampuan sosial dan mendukung kesejahteraan psikologis mereka keseluruhan. 

 

Keluarga dan masyarakat dapat mendukung anak dengan Down syndrome melalui langkah-langkah sederhana. Misalnya dengan mengajak anak bermain bersama teman sebaya, melibatkan anak dalam kegiatan keluarga atau kegiatan rumah tangga ringan, serta kesempatan anak berinteraksi di lingkungan sekitar. Masyarakat juga dapat berperan dengan bersikap ramah, tidak memberi stigma negatif, dan memberi ruang bagi anak untuk ikut dalam kegiatan bersama di lingkungan. Dukungan yang konsisten dari orang sekitar dapat membantu anak merasa diterima, meningkatkan rasa percaya diri, serta mendukung perkembangan sosialnya.

Setiap anak, termasuk anak dengan Down syndrome memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang. Dengan dukungan keluarga serta lingkungan yang menerima dan inklusif, mereka dapat memenuhi potensi pengembangan dirinya secara optimal dan memiliki kesempatan yang sama dalam kehidupan. 

-Tumbuh Tanpa Batas-

Sumber:

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemenkes RI

Patria, S. Y., & Andi Triono. (2024). Health comorbidities in children with Down Syndrome (DS) at Dr. Sardjito General Hospital, Yogyakarta. Indonesian Journal of Biomedicine and Clinical Sciences, 56 (3). https://doi.org/10.22146/inajbcs.v56i3.16062⁠ 

Wati Mardiah. (2022). Intervensi stimulasi motorik, afektif, dan kognitif pada anak dengan Down syndrome: A narrative review. Jurnal Cakrawala Ilmiah, 2(3). https://www.bajangjournal.com/index.php/JCI/article/view/4034 

World Health Organization. (2023). Down syndrome. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/down-syndrome 

Zahrotul Ghoniyah. (2015). Gambaran psychological well-being pada perempuan yang memiliki anak Down syndrome. Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 3(3). https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/10951 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *