Oleh : Muizzatunnisa, Amd.

Puasa merupakan praktik spiritual yang memiliki dampak terhadap kesejahteraan psikologis dan kesehatan jiwa. Dalam konteks pelayanan rumah sakit khusus jiwa, puasa dapat dipandang sebagai momen refleksi, pengendalian diri, dan penguatan kesehatan mental, selama dijalankan dengan pengawasan medis dan psikologis yang tepat. Berbagai penelitian dalam tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa puasa, khususnya puasa Ramadhan, berpotensi memberikan manfaat terhadap regulasi emosi dan kesejahteraan psikologis.
Bagaimana Puasa dapat Membantu Kesehatan Mental?
Puasa Ramadhan sudah banyak diketahui dapat membantu meningkatkan kesehatan fisik, termasuk dalam upaya pencegahan penyakit metabolik, jantung dan pembuluh darah; penyakit infeksi; hingga kanker. Namun belum banyak yang menyadari bahwa puasa Ramadhan juga bermanfaat untuk kesehatan mental kita.
Puasa melatih kemampuan regulasi diri dan pengendalian emosi melalui penundaan pemenuhan kebutuhan biologis. Kemampuan ini berkaitan dengan peningkatan kesadaran diri dan pengelolaan stres. Beberapa studi terkini menunjukkan adanya hubungan antara puasa Ramadhan dan penurunan gejala depresi, kecemasan, serta stres. Mayoritas penelitian menemukan peningkatan kesejahteraan psikologis selama periode puasa, meskipun efeknya dapat bervariasi tergantung kondisi individu. Temuan ini menunjukkan bahwa puasa dapat berfungsi sebagai faktor pendukung kesehatan mental.
Manfaat Puasa pada Kesehatan Mental
- Fungsi Kognitif
Sebagian besar populasi saat puasa Ramadhan tidak akan mengalami permasalahan memori. Bahkan pada populasi lansia, puasa Ramadhan yang dibarengi dengan kecukupan aktivitas fisik akan meningkatkan fungsi eksekutif, atensi, inhibisi, dan memori.
- Kecemasan dan Depresi

Puasa Ramadhan dapat membantu menurunkan tingkat stres, kecemasan ringan dan depresi ringan, sehingga meningkatkan kesejahteraan secara signifikan selama bulan Ramadhan dan dampak ini dapat bertahan hingga beberapa bulan setelahnya.
- Dimensi Sosial dan Dukungan Emosional
Puasa turut memperkuat hubungan sosial melalui peningkatan empati, kepedulian, dan interaksi positif. Dukungan sosial merupakan faktor protektif terhadap gangguan kesehatan mental. Keterlibatan sosial selama Ramadan berhubungan dengan peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan psikologis.
Sumber :
Ahmed, D. R., Al Diab Al Azzawi, M., Ahmed, J. O., Elzahaby, A., Hussein, A. M., & Heun, R. (2025). Systematic review reveals mental health benefits of Ramadan fasting with mixed effects on sleep quality and cognitive functioning. Discover Psychology. https://doi.org/10.1007/s44202-025-00553-y
Elsahoryi, N. A., Ibrahim, M. O., Alhaj, O. A., Abu Doleh, G., & Aljahdali, A. A. (2025, March). Impact of Ramadan fasting on mental health, body composition, physical activity, and sleep outcomes among university students. In Healthcare (Vol. 13, No. 6, p. 639). MDPI. https://doi.org/10.3390/healthcare13060639