Hari Kesehatan Mental Remaja Sedunia : “Remaja, Ayo Jaga Kesehatan Jiwa”

Oleh : Luthfi Hanifah, S.Kep, Ners

Masa remaja adalah masa yang penting dalam pembentukan generasi akan datang yang sehat, tangguh, dan produktif. Untuk mewujudkannya, menjaga kesehatan fisik saja tidak cukup. Kesehatan mental remaja juga memainkan peranan penting dalam menentukan kualitas hidup dan kesejahteraan mereka. 

Namun, akhir-akhir ini masalah kesehatan mental di kalangan remaja semakin meningkat. Sebuah survei yang dilakukan oleh I-NAMHS (Indonesia National Adolescent Mental Health Survey) tahun 2022 menunjukkan sebanyak 15.5 juta atau sekitar 34.9% remaja mengalami masalah kesehatan mental. Kemudian, data dari WHO juga menunjukkan 1 di antara 7 anak berusia 10-19 tahun mengalami masalah kesehatan mental. Gangguan mental yang terjadi pada remaja meliputi kecemasan (3,7%), depresi mayor (1,0%), gangguan perilaku (0,9%), gangguan stress pasca-trauma (PTSD) sebesar 0,5%, dan ADHD (0,5%).

Gangguan mental pada remaja berefek luas pada kualitas hidup remaja. “Remaja dengan gangguan mental mengalami gangguan atau kesulitan dalam melakukan kesehariannya yang disebabkan oleh gejala gangguan mental yang ia miliki,” terang Prof. dr. Siswanto Agus Wilopo, SU, M.Sc., Sc.D., Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM yang merupakan peneliti utama I-NAMHS. Hal ini juga meningkatkan risiko penyalahgunaan narkoba, seks bebas, konsumsi alkohol, keikutsertaan pada tindakan kekerasan, terganggunya hubungan social, gangguan tidur, gangguan makan, kesulitan belajar serta menurunnya prestasi akademik.

Gangguan mental pada remaja berefek luas pada kualitas hidup remaja. Hal ini meningkatkan risiko penyalahgunaan narkoba, seks bebas, konsumsi alkohol, keikutsertaan pada tindakan kekerasan, terganggunya hubungan social, gangguan tidur, gangguan makan, kesulitan belajar serta menurunnya prestasi akademik. Salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan gangguan mental pada remaja adalah bullying atau perundungan. Remaja adalah kelompok orang yang rentan mengalami bullying atau perundungan. Perundungan merupakan tindakan mengusik, mengganggu dan menyakiti orang lain yang dilakukan dari waktu ke waktu. Bentuknya bisa berupa:

  • Fisik, seperti memukul, mendorong, menendang, melecehkan, memeras, sampai merusak barang-barang.
  • Verbal berupa caci maki, hinaan, atau ejekan.
  • Dalam hubungan, misalnya dengan menjauhkan pasangan dari keluarga dan teman-teman, mengancam dan menyebarkan kebohongan tentang pasangan, atau melakukan hal-hal yang tidak disukai.

Perundungan berdampak buruk pada kesehatan mental dan membuat korban merasa gelisah, cemas, takut setiap saat, mudah marah dan depresi.

Untuk menghadapi masalah ini, setiap orang memiliki strategi atau mekanisme koping (coping mechanism) saat mengalami stress, keadaan tertekan atau emosi yang negatif. Mekanisme koping ini membantu remaja mengatasi ketidaknyamanan dari berbagai perasaan negatif yang dialaminya, agar keseimbangan emosional tetap terjaga dan remaja dapat belajar beradaptasi dengan setiap perubahan yang dihadapinya.

Mekanisme koping ini ada yang bersifat negatif, seperti makan berlebihan (stress eating), merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang atau belanja secara impulsif (impulsive buying). Bagaimana mekanisme koping yang efektif agar remaja dapat mengelola stress dan emosi negatifnya dengan sehat? Berikut cara-caranya:

1. Mengenali Penyebab Masalah

Dengan mengetahui penyebab stres atau emosi yang dirasakannya, remaja dapat membuat keputusan dan tindakan yang tepat, seperti mencari bantuan atau konseling, mengakhiri hubungan dengan orang yang menjadi sumber perasaan negatif, atau menetapkan batasan bagi diri sendiri.

2. Berolahraga 

Olahraga seperti bersepeda, jogging, berenang, atau yoga dapat membantu membuat perasaan lebih rileks dan nyaman. 

3. Melakukan Hobi  

Menekuni hobi seperti melukis, menari atau bermain musik juga dapat membantu remaja mengekspresikan diri dan perasaannya. Adiasto (2023) menjelaskan juga bahwa mendengar musik dapat mengurangi stress dan memulihkan keseimbangan emosional.

4. Journaling

Membuat jurnal tentang pikiran dan perasaan yang dialami, serta mencatat hal-hal yang perlu dilakukan dapat membantu remaja lebih fokus terhadap tindakan yang harus dilakukannya. 

5. Self Care

Merawat diri, beristirahat cukup dan melakukan relaksasi seperti yoga dan menditasi dapat membantu remaja membangun pikiran positif dan kepercayaan diri, serta memaafkan orang atau hal-hal yang menyakitinya.

6. Melakukan Aktivitas yang Disukai

Bermain dengan hewan peliharaan, traveling ke tempat-tempat baru, masak makanan yang disukai, merapikan dan membersihkan rumah, atau berkebun dapat mengalihkan pikiran dari hal-hal negatif, serta membantu remaja lebih mencintai diri dan hal-hal di sekitarnya. Kegiatan tersebut merupakan bentuk dari problem-focused coping dimana dapat membantu individu dalam mengelola tekanan. Kao (2024) menyampaikan bahwa koping yang adaptif berefek positif terhadap akademik remaja, memberi kontrol diri, dan meningkatkan kemampuan dalam mengelola tekanan.

7. Berfokus pada emosi

Hal ini digunakan untuk mengatur atau mengelola emosi disaat situasi sulit diubah. Fokus pada emosi disini dapat dilakukan dengan curhat ke teman terdekat atau keluarga, melakukan meditasi, relaksasi, ataupun dengan berdoa.

Sumber :

  • Kementerian Kesehatan RI. (2024). Pentingnya Kesehatan Mental bagi Remaja dan Cara Menghadapinya.
  • Barus, G. (2022). Hasil Survei I-NAMHS: Satu dari Tiga Remaja Indonesia Memiliki Masalah Kesehatan Mental, Universitas Gadjah Mada. Tersedia di: https://ugm.ac.id/id/berita/23086-hasil-survei-i-namhs-satu-dari-tiga-remaja-indonesia-memiliki-masalah-kesehatan-mental/ (Diakses: 2 Maret 2026).
  • Devita, Y., Erlin, F., Nita, Y., Puswati, D., & Saputra, R. (2026). Edukasi kesehatan Jiwa Remaja Melalui Pendekatan Promotif dan Preventif Berbasis Sekolah. Jurnal Abdimas Indonesia, 377-383.
  • Priyani, N. N., & Pratiwi, A. (2026). Pengalaman remaja dalam mengendalikan stress: studi fenomenologi. Surakarta: Fakultas Ilmu Kesehatan UMS.
  • Suryani, N. G., Yundari, I. D., & Dharma, I. G. (2026). Studi Deskriptif Tentang Gambaran Kesehatan Jiwa Remaja Awal di SMP Negeri 1 Abiansemal. Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer, 1-11.