Dukungan Sosial : Sumber Kunci Kesehatan Jiwa bagi ODHA (Orang dengan HIV/AIDS)

Oleh : dr. Andyazgo MS Isnandi, MMR

HIV/AIDS bukan hanya penyakit infeksi kronis, tetapi juga kondisi yang memberikan dampak besar terhadap kesehatan jiwa. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dukung­an sosial—baik dari keluarga, tenaga kesehatan, maupun komunitas—merupakan salah satu faktor protektif paling kuat untuk menjaga kesehatan mental ODHA. Tanpa dukungan ini, risiko depresi, kecemasan, hingga isolasi sosial dapat meningkat secara signifikan.

Tantangan Kesehatan Jiwa pada ODHA

ODHA sering menghadapi stigma, diskriminasi, ketakutan akan penolakan, serta ketidakpastian mengenai masa depan. Studi oleh Sherr et al. (2011) dalam Journal of the International AIDS Society menunjukkan bahwa prevalensi depresi pada ODHA dapat mencapai 2–3 kali lebih tinggi dibanding populasi umum. Depresi pada ODHA juga berhubungan dengan penurunan kepatuhan minum obat antiretroviral (ART), sehingga meningkatkan risiko morbiditas.

Selain itu, penelitian oleh Mahajan et al. (2008) menegaskan bahwa stigma sosial terkait HIV merupakan faktor utama yang memperburuk kondisi psikologis ODHA. Stigma ini dapat membuat pasien menarik diri dari lingkungan sosial, menghindari fasilitas kesehatan, hingga kehilangan motivasi untuk menjalani terapi.

Peran Penting Dukungan Sosial

Dukungan sosial terbukti menjadi “buffer” yang melindungi ODHA dari tekanan psikologis. Menurut Li et al. (2017) dalam AIDS Care, dukungan sosial yang kuat berhubungan dengan:

a. tingkat depresi yang lebih rendah,

b. kualitas hidup yang lebih tinggi,

c. kepatuhan ART yang lebih baik,

d. serta rasa kebermaknaan hidup yang meningkat.

Dukungan ini dapat bersifat:

1. Emosional — rasa diterima, empati, kehangatan dari keluarga/teman.

2. Instrumental — bantuan praktis seperti pendampingan ke rumah sakit atau bantuan finansial.

3. Informasional — edukasi yang benar tentang HIV sehingga pasien dapat mengambil keputusan kesehatan dengan baik.

4. Dukungan dari komunitas — kelompok sebaya ODHA yang menyediakan ruang aman untuk berbagi pengalaman.

Penelitian lain oleh Ndlovu et al. (2021) juga menunjukkan bahwa kelompok dukungan sebaya dapat menurunkan gejala kecemasan dan meningkatkan rasa percaya diri ODHA, terutama pada pasien baru yang masih beradaptasi dengan diagnosisnya.

Implikasi bagi Pelayanan Kesehatan

Tenaga kesehatan memiliki peran strategis dalam memperkuat dukungan sosial bagi ODHA. Rumah sakit dan puskesmas dapat mengembangkan:

    1. Program konseling kesehatan mental
    2. Pendampingan ART
    3. Kelompok dukungan sebaya,
    4. Edukasi keluarga pasien untuk mengurangi stigma.
    5. Integrasi layanan HIV dengan layanan kesehatan jiwa sangat direkomendasikan oleh WHO, terutama untuk meminimalkan gangguan psikologis yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan ART jangka panjang.

    Dukungan sosial merupakan pilar utama yang mempengaruhi kesehatan jiwa dan keberhasilan terapi pada ODHA. Dengan memelihara lingkungan sosial yang suportif, memberikan edukasi yang benar, dan menyediakan layanan kesehatan yang terintegrasi, kualitas hidup ODHA dapat meningkat secara signifikan. Dukungan sosial bukan sekadar pelengkap, tetapi kebutuhan fundamental bagi setiap ODHA untuk hidup sehat dan bermartabat.

    Sumber :

    Sherr, L., et al. (2011). HIV, depression and adherence to antiretroviral therapy. Journal of the International AIDS Society.

    Mahajan, A. P., et al. (2008). Stigma in the HIV/AIDS epidemic. AIDS, 22(Suppl 2), S67–S79.

    Li, X., et al. (2017). The role of social support in mental health among people living with HIV. AIDS Care, 29(3), 357–365.

    Ndlovu, V., et al. (2021). Peer-support interventions and mental health outcomes among people living with HIV. BMC Public Health.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *