Menavigasi Gelombang Emosi: Memahami Gangguan Bipolar di Hari Bipolar Sedunia

Oleh : dr. Andyazgo MS Isnandi, MMR

Setiap tanggal 30 Maret, dunia memperingati Hari Bipolar Sedunia untuk meningkatkan kesadaran dan menghapus stigma terhadap gangguan bipolar. Gangguan bipolar adalah kondisi kesehatan mental kronis yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang ekstrim, meliputi fase mania (senang/bersemangat berlebih) dan depresi (sedih/putus asa yang mendalam).

Topik ini krusial karena gangguan bipolar mempengaruhi lebih dari 1% populasi dunia dan berkontribusi signifikan terhadap angka mortalitas, terutama akibat risiko bunuh diri dan penyakit kardiovaskular. Selain itu, kesalahan diagnosis sering terjadi karena gejalanya kerap menyerupai depresi biasa, sehingga edukasi yang tepat sangat diperlukan untuk deteksi dini.

Berdasarkan DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition) yang merupakan panduan komprehensif dari American Psychiatric Association, gangguan bipolar diklasifikasikan menjadi beberapa tipe utama:

  1. Bipolar I: Ditandai dengan setidaknya satu episode manik yang berat, yang mungkin didahului atau diikuti oleh episode hipomanik atau depresi mayor.
  2. Bipolar II: Ditandai dengan pola episode depresi mayor dan episode hipomanik, namun tidak pernah mencapai fase manik penuh yang ekstrem.

Kondisi ini didorong oleh interaksi faktor yang kompleks, antara lain:

  1. Genetik: Adanya riwayat keluarga dengan gangguan serupa.
  2. Neurobiologis: Ketidakseimbangan zat kimia di otak (neurotransmitter).
  3. Lingkungan: Trauma masa kecil atau stres berat yang berkepanjangan.

Gejala dan tanda klinis yang dapat dikenali, antara lain:

  1. Fase Mania: Energi melonjak, bicara sangat cepat, kurang tidur tapi tidak merasa lelah, hingga perilaku impulsif yang berisiko.
  2. Fase Depresi: Perasaan hampa, kehilangan minat pada hobi, perubahan nafsu makan, hingga pikiran untuk menyakiti diri sendiri.

Meskipun bersifat kronis, penderita bipolar bisa hidup stabil dengan:

  1. Farmakoterapi: Penggunaan mood stabilizers, antipsikotik, dan antidepresan di bawah pengawasan dokter.
  2. Intervensi Psikososial: Terapi perilaku kognitif (CBT) dan psikoedukasi untuk mencegah kekambuhan.

Beberapa tips untuk penyintas bipolar untuk membantu meregulasi perubahan suasana hati yang ekstrim:

  1. Pantau Suasana Hati: Gunakan jurnal atau aplikasi pelacak suasana hati untuk mengenali pemicu.
  2. Rutinitas Tidur: Jadwal tidur yang teratur sangat penting untuk menjaga stabilitas mood.
  3. Dukungan Sosial: Jangan ragu untuk terbuka kepada keluarga atau komunitas pendukung (support group).

Gangguan bipolar adalah kondisi medis nyata yang melibatkan fluktuasi suasana hati yang ekstrim akibat faktor biologis dan lingkungan. Dengan penanganan yang tepat dan dukungan lingkungan, penyintas bipolar dapat menjalani kehidupan yang produktif dan bermakna.

Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Jika Anda atau orang terdekat mengalami perubahan suasana hati yang mengganggu aktivitas sehari-hari, segera konsultasikan dengan psikiater atau psikolog. Mari bersama hapus stigma di Hari Bipolar Sedunia ini!

Sumber :

  1. Mental Health Center. (n.d.). How to Support World Bipolar Day. https://www.mentalhealthctr.com/how-to-support-world-bipolar-day/
  2. NHS England. (2024). Adult Psychiatric Morbidity Survey: Survey of Mental Health and Wellbeing, England, 2023-24. https://digital.nhs.uk/data-and-information/publications/statistical/adult-psychiatric-morbidity-survey/survey-of-mental-health-and-wellbeing-england-2023-24/bipolar-disorder
  3. Oliva, V., Fico, G., De Prisco, M., Gonda, X., Rosa, A. R., & Vieta, E. (2025). Bipolar disorders: An update on critical aspects. The Lancet Regional Health – Europe, 48, 101135. doi.org
  4. Suharno, A. P. (2024). Karakteristik Gangguan Bipolar di Pelayanan Rawat Inap Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi Provinsi Sulawesi Selatan Periode Januari 2022-Desember 2023 [Skripsi, Universitas Hasanuddin]. repository.unhas.ac.id
  5. Wang, Y., et al. (2025). Incidence of bipolar disorder and its trends from 1990 to 2021: Findings from the Global Burden of Disease Study 2021. Journal of Affective Disorders. doi.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *