Oleh : dr. Andyazgo MS Isnandi
Kesehatan jiwa dan hepatitis kerap dipandang sebagai dua entitas medis yang terpisah. Namun, berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara gangguan jiwa dan hepatitis, terutama hepatitis B dan C. Keduanya saling mempengaruhi dan dapat memperburuk kondisi satu sama lain apabila tidak ditangani secara terpadu.
Hubungan Antara Gangguan Jiwa dan Hepatitis
Menurut studi oleh Rosenberg et al. (2020) dalam Journal of Psychiatric Research, individu dengan gangguan jiwa berat seperti skizofrenia dan gangguan bipolar memiliki prevalensi hepatitis C yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh perilaku berisiko tinggi yang berkaitan dengan kondisi psikiatri, seperti penggunaan narkotika suntik, perilaku seksual tidak aman, dan perawatan medis yang kurang optimal.
Sebaliknya, pasien hepatitis kronis juga dapat mengalami dampak psikologis dan neurologis yang signifikan. Studi komprehensif oleh Faccioli et al. (2021) dalam World Journal of Gastroenterology menjelaskan bahwa infeksi virus hepatitis C (HCV) tidak hanya menyerang hati, tetapi juga mempengaruhi sistem saraf pusat dan perifer. Dampaknya termasuk gangguan kognitif, depresi, kecemasan, hingga perubahan suasana hati. Kondisi ini diperparah oleh stigma dan stres akibat penyakit kronis, yang pada akhirnya menurunkan kualitas hidup pasien secara menyeluruh.
Dampak Terhadap Pelayanan Kesehatan
Pasien dengan komorbiditas gangguan jiwa dan hepatitis cenderung menghadapi hambatan ganda dalam mengakses layanan kesehatan. Dalam banyak kasus, mereka tidak menyelesaikan terapi hepatitis karena gangguan jiwa yang tidak terkontrol. Di sisi lain, pengobatan antivirus, terutama pada masa sebelum era DAA (direct-acting antivirals), diketahui dapat memperparah gejala neuropsikiatri.
Pendekatan integratif menjadi sangat penting. WHO (2016) menekankan pentingnya skrining hepatitis di antara populasi dengan gangguan jiwa dan integrasi layanan kesehatan jiwa dalam program pengobatan hepatitis. Rumah sakit yang menangani pasien jiwa harus mulai mempertimbangkan pemeriksaan rutin hepatitis sebagai bagian dari skrining kesehatan umum.
Kesimpulan
Kesehatan jiwa dan hepatitis memiliki hubungan yang erat dan kompleks. Keduanya dapat memperburuk satu sama lain, sehingga memerlukan pendekatan holistik yang menyatukan aspek medis, psikiatri, dan sosial. Oleh karena itu, dibutuhkan sinergi antara layanan kesehatan jiwa dan penyakit menular untuk mengurangi beban penyakit dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Penulis adalah dokter umum yang berpraktik di RSK Puri Nirmala pada hari Senin, Rabu, dan Jumat pukul 09.00 – 16.00 WIB. Untuk pendaftaran dapat menghubungi nomor 081524617175 (WA).
Sumber :
-
- Rosenberg, S. D., et al. (2020). Prevalence of Hepatitis C Among People With Severe Mental Illness. Journal of Psychiatric Research, 125, 96–102.
-
- Faccioli, J., Nardelli, S., Gioia, S., Riggio, O., & Ridola, L. (2021). Neurological and psychiatric effects of hepatitis C virus infection. World Journal of Gastroenterology, 27(29), 4846–4861. https://doi.org/10.3748/wjg.v27.i29.4846
-
- World Health Organization (2016). Global Health Sector Strategy on Viral Hepatitis 2016–2021. Geneva: WHO.