DI ANTARA EMPATI DAN TEKANAN: DINAMIKA KERJA PERAWAT JIWA

Oleh : Luthfi Hanifah, S.Kep, Ners

Fasilitas kesehatan menjadi salah satu elemen yang berperan penting dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan. Hal ini membutuhkan sumber daya manusia yang profesional. Sumber daya manusia yang berperan dalam fasilitas kesehatan yaitu tenaga kesehatan baik dokter, perawat, bidan, apoteker, dan lain sebagainya. Salah satu tenaga kesehatan yang berperan penting dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien yaitu perawat jiwa.

Perawat jiwa dalam menjalankan tugasnya tidak hanya memberikan asuhan keperawatan dari segi fisik saja melainkan dari segala aspek baik psiko-sosio maupun spiritual. Perawat jiwa juga dituntut untuk memiliki keterampilan komunikasi saat memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan masalah kejiwaan. Karakteristik pasien yang dihadapi perawat jiwa seringkali sulit diarahkan, lebih agresif, sering mengamuk dan marah, risiko melukai diri sendiri dan sekitar, serta sulit diajak komunikasi daripada pasien yang tidak mengalami masalah gangguan jiwa. Hal ini menyebabkan perawat jiwa membutuhkan kewaspadaan dan kesabaran yang lebih tinggi, serta meningkatnya beban kerja yang memicu stress kerja (Utami, Ismayenti, & Fauzi, 2025).

DARI STRESS MENUJU RESILIENSI: UPAYA MENJAGA MENTAL PERAWAT JIWA

Riset National Institute of Occupational Safety and Health menyampaikan bahwa risiko stress kerja sering terjadi pada pekerja rumah sakit. Survei PPNI di 4 provinsi di Indonesia mencatat sebanyak 50,9% perawat mengalami stress, lelah, serta sulit istirahat akibat dari beban kerja dan jadwal yang padat (Utami, Ismayenti, & Fauzi, 2025). Beban kerja yang berlebih berisiko menimbulkan lelah fisik, meningkatkan ketegangan, menurunkan konsentrasi, memicu burnout, gangguan tidur, dan lelah emosional sehingga dapat menurunkan performa kerja dan kualitas pelayanan yang diberikan. Selain itu, stress kerja juga dapat memunculkan masalah kecemasan dan depresi (Sulhijrah, Jaya, Abdullah, Bakhtiar, & Syamsu, 2025). Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menjaga Kesehatan mental perawat, diantaranya :

  1. Mengelola stress dengan baik

Cara yang dapat dilakukan untuk mengelola stress ini yaitu dengan relaksasi seperti meditasi, latihan nafas dalam, mindfulness, dan relaksasi. Selain itu, relaksasi bermanfaat untuk memberikan ketenangan baik mental ataupun fisik, serta menjauhkan diri dari pikiran dan perasaan yang tidak menyenangkan sehingga dapat menurunkan burnout dan stress.

  1. Menerapkan koping stress yang adaptif

Strategi koping yang dapat dilakukan meliputi berpikir positif, kemampuan mencari solusi masalah, sharing cerita dengan rekan ataupun keluarga, serta manajemen emosi.

  1. Menjaga keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi

Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengatur waktu istirahat, tidur dengan durasi cukup, rekreasi, serta melakukan hobi yang biasa dilakukan.

  1. Meningkatkan resiliensi diri

Resiliensi merupakan kemampuan diri untuk dapat bangkit Kembali terhadap tekanan. Resiliensi membantu perawat dalam mempertahankan kondisi psikologis yang stabil. Semakin tinggi tingkat resiliensi maka risiko depresi dan masalah mental juga semakin rendah.

  1. Membangun dukungan sosial

Dukungan sosial dari teman, keluarga, maupun lingkungan kerja yang memadai dapat membantu perawat dalam mengurangi tekanan emosional.

  1. Menerapkan pola hidup sehat

Pola hidup yang dapat dilakukan meliputi olahraga rutin, istirahat yang cukup, serta mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi.

  1. Mencari bantuan professional jika diperlukan.

IKHTISAR: KETAHANAN MENTAL PERAWAT SEBAGAI KUNCI PELAYANAN BERMAKNA

Perawat jiwa memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan kesehatan mental secara menyeluruh, baik dari aspek fisik, psikologis, sosial, maupun spiritual. Tingginya tuntutan kerja, karakteristik pasien dengan gangguan kejiwaan, serta padatnya jadwal pelayanan menyebabkan perawat rentan mengalami stress kerja, kelelahan fisik dan emosional, hingga burnout yang dapat mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan upaya menjaga kesehatan mental perawat melalui pengelolaan stress, penerapan koping adaptif, menjaga keseimbangan kehidupan pribadi dan pekerjaan, meningkatkan resiliensi, membangun dukungan sosial, serta menerapkan pola hidup sehat agar kondisi psikologis tetap stabil dan pelayanan kepada pasien tetap optimal. 

Menjaga kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan kualitas pelayanan yang diberikan kepada orang lain. Perawat perlu memberikan ruang untuk beristirahat, mengelola emosi, dan mencari dukungan ketika tekanan kerja mulai terasa berat. Apabila stress, kecemasan, atau kelelahan emosional mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti psikolog atau konselor agar mendapatkan pendampingan dan penanganan yang tepat. Dengan mental yang sehat, perawat dapat terus memberikan pelayanan yang penuh empati, profesional, dan bermakna bagi pasien.

Sumber :

  1. Sulhijrah, P. A., Jaya, M. A., Abdullah, R. P., Bakhtiar, I. K., & Syamsu, R. F. (2025). Gambaran Derajat Stress, Cemas, dan Depresi pada Tenaga Kesehatan di Ruang Instalasi Rawat Inap di Rumah Sakit Syekh Yusuf Gowa. Journal of Multidisciplinary Research and Development, 1139-1146.
  2. Utami, R. H., Ismayenti, L., & Fauzi, R. P. (2025). Hubungan Beban Kerja Mental dan Masa Kerja dengan Stres Kerja pada Perawat Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Derah Surakarta. Journal of Applied Agriculture, Health, and Technology, 36-43.
  3. Azzahra, S. F., Victoriana, E., & Megarini, M. Y. (2023). Mindfulness Based Stress Reduction (MBSR) terhadap Penurunan Burnout pada Perawat. JIP (Jurnal Intervensi Psikologi).
  4. Wokas, A., Dewi, N. S., & Sriatmi, A. (2022). Hubungan Burnout dan Resiliensi Perawat: Scoping Review. Jurnal Keperawatan.
  5. Sulistyowati, D., et al. (2024). Portrait of Indonesian Nurses’ Resilience and Mental Health: A Systematic Review. Health Information: Jurnal Penelitian.
  6. Nur, H. A., et al. (2024). Penurunan Burnout Perawat Melalui Implementasi Relaksasi Autogenik. JKP (Jurnal Kesehatan Primer).
  7. Permatasari, Y. D. A., & Utami, M. S. Koping Stres dan Stres pada Perawat di Rumah Sakit Jiwa “X”. Psikologika.
  8. Hardiyanti, R., & Permana, I. (2019). Strategi Coping terhadap Stress Kerja pada Perawat di Rumah Sakit: Literatur Review. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *