henti jantung

Mengenal Henti Jantung dan Cara Mengatasinya

serangan jantung atau henti jantung
credit: indianexpress

Beberapa hari yang lalu, dunia olahraga sedang ramai dengan berita dimana ada dua orang atlet yang mengalami henti jantung. Kedua orang tersebut adalah Christian Eriksen, seorang pesepakbola di tim nasional Denmark, dan juga Markis Kido, seorang legenda bulutangkis asal Indonesia yang juga peraih medali emas Olimpiade tahun 2008 di Beijing. Yang disayangkan adalah meski keduanya mengalami kejadian yang sama saat olahraga, tetapi, luaran yang terjadi setelahnya tidaklah sama. Eriksen sendiri berhasil diselamatkan oleh paramedis, namun tidak untuk Kido, yang harus berpulang.

Kondisi seperti ini membuat saya pribadi menyadari pentingnya pengetahuan yang dasar bagi setiap masyarakat untuk memahami penanganan baik dan cepat pada kondisi henti jantung. Hal ini tentu saja diperlukan, karena World Health Organization (WHO) mencatat bahwa serangan jantung masih menjadi pembunuh nomor satu baik itu di negara maju ataupun negara berkembang. Serangan jantung itu juga nantinya dapat menyebabkan terjadinya henti jantung. Sedangkan di Amerika sendiri, tercatat ada 350.000 kasus henti jantung yang terjadi di luar rumah sakit setiap tahunnya.

Apa Itu Henti Jantung?

Kondisi henti jantung mendadak sendiri adalah sebuah kondisi gawat darurat yang berawal dari hilangnya fungsi jantung secara tiba-tiba yang mengakibatkan kurangnya persediaan oksigen ke seluruh tubuh. Ini dapat disebabkan oleh beberapa kondisi seperti gangguan pada irama jantung, sumbatan pada peredaran darah di jantung, atau abnormalitas lainnya pada jantung, baik itu akibat obat-obatan, gangguan metabolik, dan lainnya. Karena kondisi ini termasuk gawat darurat, maka harus ditangani dengan sangat cepat. Jika kondisi ini dibiarkan selama lebih dari 4 menit, dapat mengakibatkan kematian pada sel-sel otak.

Kondisi henti jantung sendiri dapat memunculkan gejala tertentu, seperti berikut ini:

  • Tubuh roboh dan hilang kesadaran
  • Denyut nadi tidak ada dan tidak bernapas
  • Sebelum gejala di atas, ditemukan beberapa keluhan lain seperti rasa tidak nyaman atau nyeri pada dada, sesak napas, dan jantung berdebar.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, 75% penyebab dari henti jantung adalah adanya penyakit jantung koroner yang disebabkan oleh adanya sumbatan pada peredaran darah / arteri koroner di jantung, 15% oleh kardiomiopati atau gangguan otot jantung, 5% karena gangguan katup jantung, dan 2% karena gangguan irama jantung yang diturunkan seperti Brugada Syndrome, Long QT syndrome, dan lainnya.

Bagaimana Cara Menangani Henti Jantung?

Kondisi henti jantung sendiri adalah kondisi yang sangat gawat darurat dan membutuhkan penanganan segera. Sering sekali ditemukan kondisi henti jantung itu terjadi saat di luar Rumah Sakit, seperti saat berolahraga, atau saat kita sedang bersantai di keramaian. Dari beberapa penemuan, saya cukup sering melihat banyak sekali kesalahan yang ada dalam penanganan henti jantung, seperti contohnya pipinya ditampar atau dikasih air minum.

Penanganan pertama yang wajib dilakukan dalam kasus henti jantung itu adalah berupa tindakan Cardiopulmonary Resuscitation (CPR). Tindakan ini dapat membantu mengembalikan fungsi jantung sehingga bisa memompa kembali darah ke seluruh tubuh. Namun, ada beberapa hal yang meski diperhatikan sebelum melakukan CPR, yaitu:

  1. Periksa keamanan lokasi sekitar pasien. Jika kondisi cukup ramai, evakuasi pasien tersebut ke tempat yang lebih aman.
  2. Periksa tingkat kesadaran pasien tersebut dengan menanyakan nama dengan suara yang lantang atau dengan menggoyangkan tubuhnya secara perlahan. Jika merespon, pastikan jika korban tetap sadarkan diri hingga bantuan tiba.
  3. Evaluasi pernapasan dengan memastikan pasien dapat bernapas normal dengan melihat apakah dadanya bergerak naik turun. Kemudian, dekatkan telinga anda ke mulut atau hidung pasien untuk mendengar suara napas dan rasakan hembusannya di pipi.
  4. Periksa nadi pasien untuk memastikan jantung tetap berdetak. Hal ini dilakukan dengan memeriksa denyut nadi di bagian leher atau di pergelangan tangan.
  5. Panggil tenaga medis di tempat terdekat atau hubungi nomor 119 untuk memperoleh layanan kedaruratan.

Selain itu, sobat juga perlu untuk belajar tentang konsep CPR itu sendiri. Tentu saja, harus menjalani pelatihan terlebih dahulu untuk mengetahui teknik-teknik dasar yang ada. Teknik ini dibagi menjadi tiga macam yang dikenal dengan istilah C-A-B (compression-airways-breathing).

Jika belum ada orang yang sudah terlatih dalam melaksanakan proses CPR, sebaiknya dibawa terlebih dahulu ke Unit Gawat Darurat yang ada di RS terdekat, jangan diurus sendiri terlebih dahulu.

Seperti ini kira-kira pelaksanaan CPR.

henti jantung dan cpr

Dibuat oleh : dr. Farhandika Mursyid

Hubungi rumah sakit terdekat bila anda memerlukan bantuan medis. Atau silakan hubungi kami bila anda memerlukan bantuan. Anda juga bisa menyesuikan dengan jadwal dokter anda.

RUMAH SAKIT KHUSUS PURI NIRMALA

JL. Jayaningprangan No. 13 Gunungketur, Pakualaman, Yogyakarta

Telp. (0274) 515255 & 587400

Stay Safe, Stay Healthy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *