oleh : Bangun Koesmargono, A.Md.Kep.
MENGENAL TANDA DAN CARA MENOLONG
Pikiran untuk mengakhiri hidup bukanlah tanda kelemahan karakter, kurang iman, atau mencari perhatian. Dalam ilmu kesehatan jiwa hal tersebut dikenal sebagai suicidal ideation, merupakan sinyal bahwa seseorang sedang mengalami penderitaan psikologis yang sangat berat.
Pada layanan kesehatan, kondisi tersebut termasuk dalam kegawatdaruratan psikiatri yang butuh penanganan segera. Mengenali dan memahami mengapa pikiran mengakhiri hidup dapat muncul merupakan langkah awal pencegahan. Beberapa hal yang perlu kita pahami berkaitan dengan pikiran mengakhiri hidup, diantaranya :
1. FAKTOR PENYEBAB TIDAK TUNGGAL (BIOPSIKOSOSIAL)
-
- Faktor Biologis
Terdapat gangguan kesehatan jiwa seperti depresi mayor, gangguan bipolar, cemas berat, skizofrenia, yang berhubungan dengan ketidakseimbangan zat kimia di otak seperti serotonin. Terdapat riwayat di keluarga, penyakit kronis dengan nyeri lama, gangguan tidur berat, dan efek putus zat juga meningkatkan kerentanan.
-
- Faktor Psikologis
Perasaan putus asa (hopelessness) adalah prediktor paling kuat. Muncul pikiran seperti “saya jadi beban”, “tidak ada yang peduli”, “masalah tidak akan selesai”. Seseorang merasa nyeri psikologisnya (psychache) tak tertahankan, sehingga merasa tidak ada jalan keluar lain.
-
- Faktor Sosial dan Lingkungan
Isolasi sosial, kesepian, konflik berat, kehilangan orang tersayang, PHK, perceraian, tekanan ekonomi. Stigma gangguan jiwa membuat takut bercerita dan kurangnya support system memperberat kondisi.
2. DUA PERASAAN PENTING YANG SERING MUNCUL
Berdasarkan teori Interpersonal (Joiner, 2005), risiko meningkat saat 2 perasaan ini muncul bersamaan:
-
- Merasa menjadi beban bagi orang lain
-
- Merasa tidak terhubung / tidak dimiliki siapapun
Jika kedua perasaan tersebut muncul secara bersamaan, pikiran untuk mengakhiri hidup bisa jadi lebih intens.
3. FAKTOR PEMICU DAN PELINDUNG
-
- Pemicu
Riwayat percobaan sebelumnya (risiko tertinggi), gangguan mental tidak tertangani, penyalahgunaan NAPZA/alkohol, impulsivitas, akses mudah ke sarana berbahaya, riwayat trauma.
-
- Pelindung:
Dukungan keluarga/teman yang suportif dan tidak menghakimi, kemampuan coping yang baik, memiliki alasan untuk hidup (anak, pasangan, agama, tujuan hidup), akses layanan kesehatan jiwa, dan hubungan baik dengan nakes.
KEMUDIAN APA YANG BISA KITA LAKUKAN DI LAYANAN KESEHATAN DAN BERPERAN SEBAGAI SESAMA?

Peran kita adalah menolong, bukan menghakimi.
-
- Dengarkan dengan empati tanpa menghakimi: ciptakan ruang aman, mengarkan aktif tanpa memotong/menyalahkan, validasi perasaannya. Contoh: “Terima kasih sudah berani cerita. Pasti berat sekali rasanya. Saya di sini untuk mendengarkan.”
-
- Tanyakan dan kenali risiko dengan tenang: Jangan takut bertanya langsung dan tenang. Bertanya tidak akan memasukkan ide, justru menunjukkan kepedulian.
-
- Dampingi dan jaga keselamatan: Jangan biarkan penyitas berjuang sendiri. Libatkan keluarga/orang terdekat yang suportif. Edukasi keluarga untuk mendampingi, tidak meninggalkan sendiri, dan membantu membatasi akses benda berbahaya di rumah.
-
- Segera arahkan ke bantuan profesional: Ini butuh bantuan profesional, bukan ditangani sendiri. Segera rujuk ke psikolog, psikiater, perawat jiwa. Setting di Rumah Sakit, libatkan DPJP dan tim Keswa.
-
- Dokumentasi dan tindak lanjut: Catat hasil penilaian dan pastikan pasien terhubung dengan layanan lanjutan.
Pikiran untuk mengakhiri hidup adalah bentuk ataupun tanda untuk minta bantuan, bukan akhir dari segalanya. Dengan pemahaman biopsikososial, deteksi dini, kepedulian tanpa stigma, dan sistem rujukan cepat, banyak nyawa bisa diselamatkan. Mari saling peduli, pencegahan adalah tanggung jawab kita bersama.
Jika Anda atau orang terdekat membutuhkan bantuan, segera hubungi Rumah Sakit Khusus Puri Nirmala Jl. Jayaningprangan No. 13 Gunungketur, Pakualaman, Yogyakarta telp. 0274 515255 WA 081524617175 www.purinirmala.com atau faskes terdekat.
Hotline Kemenkes 119 ext 8 (24 jam)
DAFTAR PUSTAKA
1. American Psychiatric Association. (2022). DSM-5-TR.
2. Kemenkes RI. (2021). Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Bunuh Diri.
3. Joiner, T. E. (2005). Why People Die by Suicide. Harvard University Press.
4. Klonsky & May (2015). The Three-Step Theory. Int J Cogn Ther, 8(2).
5. WHO. (2023). Suicide Prevention: Toolkit for Health Workers.